Bang…bing…bung…Yuk, kita nabung!!

Ceritanya dulu di sekolah eMbak Iyut (sulungku, TK-B) tiap hari Sabtu ada gerakan menabung…jadi tiap anak memasukkan berapapun jml uang yg dia bawa ke dalam celengan masing-masing. Koq dulu?? Yaa, itu dulu…karna setelah kejadian kebobolan di sekolah, semua celengan diserahkan kembali ke orang tua. Sejak itulah semua murid beralih menabungnya di rumah, tak terkecuali si Embak. Kebijakan sekolah pun tidak membolehkan membawa uang (jajan). Sanksinya tak main2, disita pihak sekolah dan diserahkan oleh ustazah nanti di akhir bulannya.

Tak jauh beda dgn masa kecil saya, dulu suka sekali ngumpulin koin: dari nemu di kantong bapak…kembalian belanja (baca: upah ‘perahu’)…sampe koin buat kerokan….mulai Rp100, Rp200 (tp klu Rp500 udah lgsg pergi ke warung xixii)…semuanya nyemplunggg celengan apel. Dan tak terasa si apel yg kerap kujadikan ganjel pintu itu kini sudah mulai gendut…. *hiphiphoreee  Si Embak begitu nemu celengan apelku seperti nemu harta karun dan langsung dibongkarnya…wiiiih senengnya bukan main…krinciiing-krincinggg. Ujung-ujungnya si Embak bukannya minta celengan baru tapi minta dompet khusus seperti punya saya. Mungkin merasa kalau di rumah sudah ada celengan isinya pun udah penuh pula meski koin semuaaa….hehehe. Yo wis, ambilkan dompet lama dan isi 7 lembar ribuan…beress! Si adik pun ikutan minta juga….masukin 3 lembar ribuan ke dompet, berikan… *anteng🙂

Saya memang jarang memberi anak2 uang jajan setiap hari biarpun sedang tebel dompet…hahaa. Anak2 ga pernah bilang ibu pelit, mereka tahu ibunya lebih suka klu mereka mau bawa bekal atau snack kesukaannya aja. Namun, acapkali saya sendiri juga menawarkan jajanan yg hanya bisa anak2 lihat di TV atau dengar dari teman untuk sekadar tahu “Ooo begini rasanya makanan ini, makanan itu…”. Toh sekalipun dikasi uang jajan, sorenya sepulang saya kerja bakalan ada yg melapor “Uang Embak masih seribu, yg seribu buat beli jajan sama mba Nara”.  *peyuk erat embak iyut* 

Tapi yg tak bisa saya hindari melintas di depan supermarket atau toko cemilan yg mengundang hasrat jajan…si bontot udah pasti langsung berseru “Mauuu ituuuu….!!!”  kwaakks.

Tapi serius! Mengajarkan anak untuk selalu berhemat, merasa bersyukur dgn semua uang yg dimilikinya merupakan salah satu bentuk pengasuhan positif yg mengajarkan kpd mereka agar terhindar dari mental serakah atau perasaan tidak pernah puas. Sering2 saja membuka obrolan ringan dgn anak2 bagaimana efek buruknya mendewakan uang dan status bagi diri kita. Sejatinya tak melulu teori, banyak juga aktivitas positif yg bisa kita tunjukkan kepada mereka karna memang sdh seharusnya kita memberikan contoh nyata. Yang tak kalah penting adlh menunjukkan bahwa siapapun bisa sukses dgn cara2 yg jujur. Berikan juga sedikit gambaran pentingnya berbagi terhadap sesama sehingga anak peka terhadap lingkungan. Dan, sbg orang tua hindari melakukan hal yang tampak sepele namun memengaruhi mental anak, seperti mengeluh mengenai kekurangan uang di depan anak2.
Akhir kata, lakukan hal positif agar dampaknya juga berbalik positif. Siapa sih yg tidak bangga memiliki anak yang dermawan, pintar lagi suka menabung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: