Bila si Kecil Susah Minum Obat

Betapa sedihnya saat si kecil sakitill, rewel, ogah makan atau minum, minta gendong terus, sulit minum obat lagi. Tak jarang, para ibu ikut menangis, dalam hati ataupun linangan air mata. sad/cryJika bisa, ingin rasanya menggantikan sakit si kecil, ingin rasanya menjadi tumbal penderitaan si kecil.
Ketika si kecil sakit dan sulit minum obat, orang tua kalang kabut dibuatnya. Bekerja tak lagi nyaman, tidur tak lagi nyenyak, bahkan rela terjaga demi si kecil yang sedang dirundung lara.
Segala upaya sudah ditempuh, bujuk rayu dihembuskan. Apa mau dikata, obat yang dipaksa dicekokkan di mulut mungil si kecil, tetap berhamburandrooling. Keluarlah obat dan isi perut si kecil bersama muntahan. Apa yang akan dilakukan jika ilustrasi di atas menimpa anak kita? Katakanlah si kecil sudah mendapatkan 3 jenis obat sirop berkenaan dengan sakitnya.

Obat dan peralatan penunjang:
* Obat dan sendok takar (bukan sendok teh atau sendok makan). Sekali lagi sendok takar.
* Pipet plastik obat. Pipet ini bisa didapatkan dengan membeli vitamin atau obat penurun panas drops (tetes) yang ada pipet plastiknya. Usahakan jangan pipet kaca (kalau digigit, bisa pecah). Pastikan keberadaan pipet plastik dalam kemasan obat saat kita membelinya di apotik.
* Gelas kecil atau wadah dari plastik agar tidak pecah saat tersenggol secara tidak sengaja ketika terjadi pemberontakan si kecil.
* Nampan plastik atau kayu dan lap bersih, tissue atau washlap.
* Minuman kesukaan si kecil untuk diminumkan selang-seling dengan minum obat. Misalnya sari buah atau apa saja.

Langkah-langkah minum obat:
* Siapkan obat dan semua peralatan penunjang di atas sebelum meminumkan obat.
* Kalungkan lap atau kain bersih pada si kecil agar tidak mengotori pakaian jika ada percikan obat.
* Kocok botol obat hingga rata (homogen)
* Tuangkan masing-masing obat sesuai takaran yang dianjurkan ke dalam wadah atau gelas plastik, lalu aduk hingga rata. Jangan dikurangi ya. Sekali lagi pastikan dosisnya tepat. Pesankan hal ini jika yang meminumkan obat orang lain.
* Pegang kedua pipi si kecil di antara rahang atas dan bawah dengan lembut agar mulutnya terbuka, kira-kira cukup untuk menyelipkan pipet di sela kedua bibir.
* Minumkan obat sedikit demi sedikit dan selingi dengan minuman kesukaan si kecil atau teh manis agar tidak mblenger. Boleh sambil menimang sebentar, lalu dilanjutkan minum obat.
* Ulangi langkah di atas hingga obat habis.
* Tuangkan minuman kesukaan si kecil atau teh manis ke dalam wadah yang mungkin masih ada sisa obat. Aduk dengan pipet plastik sampai rata, kemudian minumkan lagi hingga wadah obat bersih tanpa sisa.
* Bersihkan sekitar mulut si kecil dengan tissue atau washlap.

Namun tidak semudah ini, kadang sulit, bahkan tak jarang bujukan berubah bentakan, cubitan atau nakut-nakuti. Tak jarang si kecil dikeroyok sampai 2-3 orang.
Kesabaran, ketelatenan amat diperlukan saat minumkan obat bagi si kecil.
Bagaimana jika obat baru masuk, langsung dimuntahkan?
Nah ini repotnya. Mau diulang khawatir kelebihan dosis, tidak diulang takut tidak sembuh.
Jika dimuntahkan semua, apalagi isi perut ikut terhambur, mau tidak mau
diulang. Tentu pakai tenggat waktu, agar si kecil tidak muak.
Bagaimana jika sama sekali tidak bisa minum obat? Ini lebih repot lagi. Misalnya baru ngeliat botol obat sudah muntah. Baru melihat sendok obat sudah hoeekkk. Pendeknya, blasss nggak bisa masuk sedikitpun.

Tenang, sabar, sabar…
Jika panas, ganti obat minum dengan obat yang dimasukkan anus mirip peluru kendali mini, cara ini disebut supositoria. Supaya mudah diingat, obat lewat anus, gitu aja koq repot. Obat anti muntah juga tersedia dalam bentuk supositoria.
Dengan adanya pilihan cara supositoria setidaknya dapat mengurangi jenis dan jumlah obat yang diminum. Misalnya si kecil memerlukan obat antibiotika dan obat panas, maka penurun panas lewat anus sedangkan antibiotika lewat mulut.
Masalahnya, kebanyakan anak tidak suka dengan cita rasa antibiotika. Jika menghadapi kondisi demikian, para orang tua dapat minta bentuk lain, misalnya tetes (drops) sepanjang masih memungkinkan dosisnya dengan tetesan.
Intinya, para orang tua bebas dan boleh meminta sediaan obat sesuai kebiasaan si kecil. Misalkan si kecil lebih mudah minum sirup, maka boleh minta sirup. Demikian juga jika si kecil lebih mudah minum obat puyer, maka mintalah puyer.
Perlu diketahui bahwa dosis obat anak sebagian besar dihitung berdasarkan berat badan, bukan umur.
Contoh: Anak umur 2 tahun dan anak umur 1 tahun bisa saja dosis antibiotika sama jika berat badan dan penyakitnya sama.

Masalah serius adalah jika semua jenis obat tidak bisa masuk, sedangkan obat tersebut mutlak diperlukan. Misalnya anak sakit memerlukan antibiotika dan obat penurun panas.
Penurun panasnya oke, bisa masuk cara supositoria, lalu bagaimana dengan antibiotika? hmmmm
Ada beberapa anak yang seperti itu. Sampai usia sekolah masih tidak bisa minum obat. Obat sih kadang bisa masuk, baru sesaat sampai lambung langsung huek, hueeekkk.
Gampang aja. Cublessss, suntik. Kalau perlu, home care. Rawat di rumah, pasang infus untuk memasukkan obat, datangi 3 -4 kali sehari. Beres.

Untuk orang tua dan calon orang tua:
Sebaiknya sediakan obat di rumah untuk pertolongan pertama jika si kecil sakit. Setidaknya obat penurun panas, obat anti muntah atau obat lain yang sesuai dengan sakitnya si kecil. Jika bukan obat bebas, jangan segan minta resep dokter untuk persediaan, lengkap dengan petunjuk cara minumnya.

Contoh obat penurun panas supositoria ( lewat anus ):
* Dumin Rectal Tube (125 mg/2,5 ml dan 250 mg/4 ml). Kandungan: asetaminofen atau parasetamol
* Proris supp (ibuprofen 125 mg)

Penurun panas bentuk sirup atau tetes, silahkan pilih sesuai cita rasa. Adapun dosisnya, sesuaikan dengan etiket.
Obat penurun panas bisa diulang setiap 6-8 jam, maksimal 4 jam (jangan kurang dari 4 jam ya)

Perhatian:
Jika anak kita alergi terhadap salah satu jenis obat, hendaknya lapor kepada dokter dengan membawa obatnya. dokter akan memberikan selembar catatan alergi terhadap obat tertentu. jika tidak, orang tua wajib meminta. Hal ini penting agar tidak diberi obat yang sama dikemudian hari oleh dokter lain.

Ingat, alergi tidak sama dengan keracunan. Misalkan seseorang alergi antalgin, walaupun minum secuil tetap alergi. Adakalanya seseorang yang awalnya tidak alergi antalgin, suatu saat timbul alergi. Gak perlu marah-marah, lalu ngomel: padahal dulu gak apa-apa koq sekarang jadi gatal. Hal ini bisa terjadi sodara, lantaran menyangkut faktor imunologi.
Obat adalah bahan kimia. Sekecil apapun efek sampingnya, bertanya kepada yang mengerti adalah langkah bijaksana.

http://www.untukku.com

One comment

  1. Terima kasih tulisannya Bu, sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: