Mengucap kata “Andaikata..” atau “Seandainya..” ketika mendapat musibah atau kegagalan

Sering kita mendengar dari pembicaraan orang-orang: ”Seandainya begini pasti begitu…” atau “Andaikata dulu saya begini pasti saya….”. Atau mungkin kita sendiri pernah mengatakannya saat tertimpa musibah atau mengalami suatu kegagalan. Nah, hal ini pulalah yang mendorong saya untuk menampilkan judul ini, sebagai pembelajaran juga bagi diri saya pribadi yang masih tipis ilmu agamanya. Sadarkah kita bahwa mengucapkan “andaikata” maupun “seandainya”, terdapat larangan sebagaimana telah termaktub di Al qur’an dan Hadits.

1. Dalam QS. Ali Imran

“Mereka (orang-orang munafik) mengatakan : seandainya kita memiliki sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya (kita tak akan terkalahkan) dan tidak ada yang terbunuh diantara kita di sini (perang uhud). Katakanlah : ‘Kalaupun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (keimanan) yang ada dalam dadamu, dan membuktikan (niat) yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi segala hati.” (QS. Ali Imran, 154)

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka takut pergi berperang : seandainya mereka mengikuti kita tentulah mereka sudah terbunuh. Katakanlah : Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali Imran, 168)

Kedua ayat di atas menunjukkan adanya larangan untuk mengucapkan kata “seandainya” atau “andaikata” dalam hal-hal yang telah ditakdirkan oleh Allah terjadi, dan ucapan demikian termasuk sifat-sifat orang munafik, juga menunjukkan bahwa konsekwensi iman ialah pasrah dan ridho kepada takdir Allah, serta rasa khawatir seseorang tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari takdir tersebut.
Jadi jelaslah, bahwa dari kandungan surat Ali Imran menjelaskan adanya
larangan mengucapkan kata “andaikata” atau “seandainya” apabila mendapat suatu musibah atau kegagalan.
Alasannya, karena kata tersebut (seandainya/andaikata) akan membuka pintu perbuatan setan.

2. Sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan dalam shoheh Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu

“Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah, dan jika kamu tertimpa suatu kegagalan, maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’“, tetapi katakanlah : “ini telah ditentukan oleh Allah, dan Allah akan melakukan apa yang Ia kehendaki”, karena kata “seandainya” itu akan membuka pintu perbuatan setan.”

Nah, untuk menjaga agar kita tidak terpuruk dalam perbuatan yang tidak sesuai Al qur’an dan Hadits ketika kita menjumpai suatu kegagalan atau mendapat suatu musibah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberi petunjuk sbb.
1. Mengucapkan ucapan ucapan yang baik [dan bersabar serta mengimani bahwa apa yang terjadi adalah takdir Allah].
2. Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari segala yang bermanfaat [untuk di dunia dan di akhirat] dengan senantiasa memohon pertolongan Allah.
3. Larangan bersikap sebaliknya, yaitu bersikap lemah.

Sumber: http://qurandansunnah.wordpress.com

One comment

  1. Seandainya bisa dipakai ketika kita menghibur diri sendiri. Tetapi berpikir positif dan bersikap positif diperlukan sebagai pembelajaran agar kita berani menengok kesalahan dalam langkah di masa lalu. Jangan takut berpikir ‘seandainya’ kalau itu berguna dalam langkah ke depan…
    Bagus sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: